"Papap"
itulah caraku dan anak-anakmu yang lain memanggilmu
Tak seperti orang lain kebanyakan yang memanggil ayahnya dengan sebutan 'ayah, bapak, papah, papi, abi', dsb. Nick itu punya arti tersendiri untuk kami. Terima kasih tuk memilih nick itu, pap.. (Aku suka^^)
Pap,
Sudah 2 hari kau meninggalkan kami.. (23 Januari 2010)
Apa kabarmu sekarang disana?
aku tentunya sangat berharap kau bahagia disana, jauh lebih bahagia daripada saat kau berada di dunia.
Jauh merasa lebih bahagia dibandingkan bahagianya engkau saat berkumpul bersama kami, keluargamu.
Pap,
Aku yakin, Allah menyediakan tempat terbaik untukmu disana sebagai balasan atas kebaikanmu yang tak ternilai..
Kebaikanmu terhadap kami, keluarga, saudara, tetangga, kolega, hingga terhadap orang lain yang bahkan kau sendiri pun tidak kenal..
Kau yang sangat begitu baik dan peduli, teramat baik kepada orang lain hingga kadang membuatku iri dan berpikir 'Sepertinya kau lebih sayang mereka yang jelas-jelas hanya orang lain, dibandingkan anak-anakmu sendiri ini'.
Astagfirullah, maafkan aku pap, maafkan kami, maaf karena sempat berpikiran sejahat itu padamu.
Maaf karena bisa-bisanya saat berpikir seperti itu kami tak menyadari akan kasih sayangmu yang tak ternilai harganya yang justru telah kau berikan sejak kami berada dalam kandungan.
Pap,
Kau yang sangat begitu jujur, bahkan mugkin terlalu jujur hingga akhirnya kau sering ditipu orang, dibohongi, dicurangi..
Sakit hati kami saat tau kau disakiti seperti itu, ingin sekali kami marah dan membuat perhitungan, tapi kau hanya bilang "Sudahlah, mungkin memang bukan rezeki kita, biarkan saja. Biar Allah yang membalasnya, semoga Allah menyadarkan dia atas kesalahannya dan membimbing dia ke jalan yang benar"
Kau sungguhlah sosok yang baik, tak heran mereka pun sangat sayang dan hormat padamu..
Kau yang tak pernah sombong, tak pernah angkuh, tak pernah ambil jarak dengan siapapun..
Senyummu yang ramah dan pembawaanmu yang suka bercanda membuatmu dekat dengan orang-orang..
Pribadimu yang tulus dan bersih inilah yang membuat mereka mengenalmu dengan baik, membekas di hati orang-orang yang mengenalmu, terlebih lagi bagi mereka yang pernah kau bantu, kau tolong tanpa pamrih sedikitpun..
Pap,
Taukah kau bahwa kau telah dianggap sebagai salah satu tokoh masyarakat disini..
Taukah kau bahwa mereka sangat menyayangimu..
Taukah kau bahwa mereka sangat kehilanganmu..
Taukah kau bahwa mereka yang melihat dan menyapamu dihari terakhirmu berkata bahwa pagi itu kau begitu sehat, wajahmu bercahaya..
Taukah kau saat mereka bertemu aku, ibu, dan anak-anakmu yg lain, mereka selalu membicarakan kenangan-kenangan manis mereka saat bersamamu dulu..
Taukah kau betapa banyaknya orang-orang yang hadir untuk menyolatkanmu hingga mesjid pun tak mampu menampungnya..
Taukah kau betapa banyaknya orang yang hadir dipemakamanmu..
Pap,
Taukah kau bahwa selama ini adegan "Pulang ke rumah, yang didapati adalah jasad orang yang dicintai, pemakaman" adalah hal yang selama ini cuma aku jumpai di sinetron/film..
Aku tak menyangka hal itu justru kini menimpaku, menimpa aku!
Selama diperjalanan pulang aku menahan diri untuk tak menangis lagi, mencoba menguatkan diri, menangis sejadi-jadinya saat aku masih di kosan agar aku tak lagi menangis saat tiba dirumah, saat melihatmu untuk yang terakhir kalinya nanti..
Namun apa yang terjadi saat akhirnya sampai di rumah, dini hari yang begitu dingin dan gelap, saat mataku tertuju ke dalam rumah, yang kulihat sejak dari halaman rumah adalah jasadmu yang terbujur kaku, telah rapih terbungkus kain kafan yang kemudian diselimuti sebuah kain berwarna hijau bertuliskan 2 kalimat syahadat..
Hancur hatiku saat akhirnya aku memasuki rumah, mencoba maraih ibu dan dengan sigap ibu meraihku, memelukku seerat mungkin, menyanggaku yang jatuh lemas tak berdaya seperti tak lagi mempunyai tulang yang bisa dengan kokoh menyangga tubuhku.. Beliau mencoba menenangkanku saat tak sanggup lagi aku menahan tangis, semua kekuatanku hancur seketika..
Pap,
Hancur hatiku saat kusadari bahwa jasad di depanku itu adalah memang jasadmu..
Saat akhirnya kulihat wajahmu, pucat pasi, tak ada rona warna karena aliran darah, semua sel-sel yang menyokongmu menjadi sebuah raga telah mati, dengan rambutmu yang sudah mulai banyak ubannya (aku ingat, kau selalu sebal akan hal itu kan, pap? kau selalu berujar 'ih, rambut papap jelek ya, yan? Putih-putih gini!' hee, pap,, paap), dan hingga akhirnya saat kusentuh kulit wajahmu terasa dingin, sangat dingin, ku usap, dan ingin sekali kucium, tapi aku takut tak kuasa lagi menahan air mata..
Ya Allah, itu memang kau, pap..
Kau yang selama ini selalu menguatkanku, menjagaku, mempercayaiku..
Kau yang selama ini menyayangiku, mencintaiku, selalu berusaha memenuhi kebutuhanku..
Kau yang sering sekali memarahiku *Aku keras kepala ya pap?
Kau yang juga sering memanjakanku
Kau yang selalu marah saat aku tak memberi kabar kalau ternyata aku sudah sampai kosan..
Kau yang selalu rajin menelepon di perjalanan pulang ('udah sampai mana, rul? masih jauh ga? masih lama? macet ga? kira-kira sampai Serang jam berapa?' Ya Allah pap, tak ada lagi nanti hal seperti itu)
Kau yang selama ini jadi panutan keluarga
Kau yang selama ini jadi imam saat kita sholat berjamaah
Kau yang suka sekali memasak *Masakanmu enak sekali lho
Kau yang selalu mengantar-jemput aku ke tempat PL selama sebulan kmarin.. *bahkan saat kau harus ke luar kota karena urusan pekerjaan pun, kau buru-buru pulang karena ingin menjemputku
Kau yang.. Kau yang.. Kau yang.. *skip aja deh ya pap, kebanyakan kalau ditulis semua
Ya Allah,
Kini kau telah pergi, pap
Pergi meninggalkan kami untuk selamanya
Tak akan lagi kau kutemui di setiap sudut rumah
Tak akan lagi kulihat wajahmu, ragamu
Takan lagi ku dengar suara jengkelmu karena keras kepalanya aku
Takan lagi kurasakan ketika kau memanjakanku
Takan lagi aku bisa mencium tanganmu, keningmu
Takan lagi aku bisa memijitimu
Takan lagi aku bisa menggosokkan minyak kayu putih di punggungmu
Takan lagi aku bisa menempelkan koyo di salah satu bagian punggungmu yang terasa sakit
Takan lagi aku melihatmu bermain gitar sambil bernyanyi, mendengar suaramu yang pintar bernyanyi
Takan lagi kau bisa hadir di wisudaku nanti *2 minggu yang lalu sebelum kau pergi, kau bilang akan hadir di wisudaku nanti, dan akan datang dari sehari sbelum acara wisudaku
Takan lagi kurasakan itu semua
Pap,
Penyesalan terbesar saat aku tak bisa ada disampingmu saat kau sekarat
Menyesal aku tak sempat berada didekatmu saat ajalmu tiba
Menyesal aku tak sempat meminta maaf sebelum akhirnya kau pergi
Menyesal aku telah begitu banyak berbuat dosa padamu
Maafkan aku untuk segala dosa yang telah kulakukan
Maaf karena aku keras kepala
Maaf karena aku manja
Maaf karena tak jarang aku sering merasa kesal terhadapmu
Maaf karena terkadang aku membantah perintahmu
Maaf karena aku tak bisa memenuhi semua inginmu
Maaf jika aku tak pernah bisa membuatmu bangga dan bahagia
Maaf kalau aku akan sering merasa bahwa kau hanya sedag tidak di rumah (bukan bahwa kau memang sudah tidak ada lagi di rumah)
Maaf kalau aku masih akan terus sering menangis untuk beberapa waktu ke depan
Maaf..
Ya Allah,
Tak banyak yang bisa kulakukan untuknya sekarang
Hanya untain doa dan alunan ayat Suci Al-Qur'an yang bisa kuhadiahkan,
Ya Allah,
Tolong jagalah beliau
Jaga ayahku tersayang, ampuni segala dosanya, jauhkan beliau dari segala fitnah, bahagiakan beliau di sana, semoga diterima iman-Islamnya, mudahkan jalannya
Ya Allah, semoga beliau tertolong dengan semua amal kebaikannya di dunia,
semoga beliau mendapat tempat yang nyaman, tempat terindah di sisiMu, menunggu dengan tenang dan bahagia hingga akhirnya waktu dibangkitkan kembali tiba
Smoga kami bisa bertemu dan berkumpul kembali dgnmu suatu saat nanti, pap
Amin Ya Rabb
Istirahatlah dengan tenang, pap
Doa kami tak pernah putus, selalu menyertaimu
Kau adalah AYAH TERHEBAT untuk kami
Aku BANGGA terlahir sebagai salah satu putrimu, pap
I love you, dad
We love you
We'll always love you
You'll always be in our hearts
Ya Allah, sampaikan salam kami untuknya, kami mencintainya...


